Rabu, 04 Mei 2011

PENGERTIAN NAFSU

PENGERTIAN NAFSU

Kata nafsu berasal dari Bahasa Arab Nafsun yang berarti jiwa/ ruh manusia. Nafsu dalam bahasa Arab ini terdiri atas tiga huruf. Huruf pertama bernama nun. Huruf kedua berupa huruf fa’. Huruf ketiga berupa huruf sin. Kata nafsu dalam kosa kata bahasa Arab ini digolongkan dalam isim.
Artinya, kata yang menunjukkan benda, hewan, tumbuhan, manusia atau segala sesuatu yang menyerupai. Dengan demikian, nafsu dalam bahasa Arab ini dianggap berwujud, ada seperti hewan, tumbuhan, manusia.
Dalam kamus bahasa Indonesia, nafsu berarti: keinginan, kecendrungan, dorongan jiwa yang kuat untuk melakukan perbuatan entah itu perbuatan yang baik maupun perbuatan yang buruk.[1] Contoh dalam kalimat, ikan bawal yang disajikan oleh Amir membangkitkan Nafsu Makan Budi. Berdasarkan contoh di atas dapat disimpulkan bahwa ketika Amir menyajikan ikan bawal yang digoreng kepada Budi maka dalam jiwa Budi muncul dorongan agar Budi segera melakukan tindakan memakan ikan bawal yang disajikan oleh Budi. Dorongan agar segera memakan ikan bawal yang disajikan oleh Amir inilah yang disebut dengan nafsu.
Menurut M. Quraish Shihab, nafsu adalah dorongan yang menarik manusia ke bumi/ tarikan bumi.[2] Manusia itu memiliki dua tarikan yang saling berlawanan, yaitu: tarikan langit dan tarikan bumi. Tarikan langit adalah tarikan malaikat dan tarikan bumi adalah tarikan binatang atau juga kerendahan. Tarikan langit dan tarikan bumi ini mengisyaratkan jika manusia menuruti tarikan langit maka ia telah menyucikan jiwanya. Sebaliknya, jika manusia menuruti tarikan bumi maka ia telah mengotori jiwanya. Dengan demikian, menurut M. Quraish Shihab, manusia dapat mencapai posisi lebih tinggi daripada malaikat dan juga dapat lebih rendah daripada binatang.
Dari tiga pengertian di atas dapatlah kita menarik sebuah kesimpulan. Nafsu adalah bagian dari jiwa kita yang mendorong kita untuk melakukan sebuah tindakan baik itu tindakan yang menyebabkan kita menjadi sukses maupun tindakan yang menyebabkan kita menjadi orang yang gagal. Setiap dari kita pasti sibuk melakukan sesuatu, sibuk belajar, sibuk bekerja, sibuk beternak ayam atau juga sibuk melamun. Semua kesibukan yang kita lakukan itu semua karena dorongan nafsu. Karena nafsulah kita melakukan sesuatu.


[1] Kamus besar bahasa Indonesia edisi ketiga hal 770
[2] M. Quraish Shihab dalam menyikap tabir ilahi (Asmaul Husna dalam persfektif Al-Quran).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar